sumber gambar: goodreads.com
penulis sinopsis: Siti Rohmah
Tokoh Kita ini adalah seorang calon rahib. Selama revolisi, dia merupakan seorang komandan kompi. Di akhir revolusi, dia menjadi algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat. Akhirnya sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.
Kini ia menjadi gelandangan ,ketika revolusi bersenjata dulu dia tahan tak makan berminggu-minggu lamannya. Keriuhan lalu lintas dan gambaran manusia ramai sekelilingnya memenuhi perutnya dengan kehidupan kota, uap peradaban manusia modern, yang membuatnya sanggup untuk menangguhkan rasa apar dan sakit berlarut-larut.
Borok di pergelangan kaki membuatnya tak kuat berjalan. Boroknya itu dulu hanyalah gores kecil dari dahan belukar, ketika ia mengantarkan fifi ke perkampungan kaum gelandangan. . Fifi ini adalah seorang gadis berusia 14 tahun, yang karena keganasan suatu gerombolan yang membuatnya menjadi seorang gadis yatim piatu dan tidak punya tempat tinggal, akhirnya membuat dirinya terpaksa seorang pelacur kelas teri untuk bertahan hidup, namun tak berselang ia kena razia. Setelah keluar dari kantor polisi Fifi di tolong oleh Tokoh Kita dan dibawa ke Maria.
Maria adalah salah seseorang yang mempunyai perhatian lebih terhadap Tokoh Kita. Maria, memang orang yang galak tetapi sebenarnya berhati baik dalam komunitas kaum gelandangan dia dianggap sebagai sebagai ibu dari sekian para wanita di komunitas itu. Maria selalu bersedia menolong orang-orang yang berada dalam kesusahan. Sebelumnya, wanita dia bercita-cita menjadi perawat namun, karena takut dengan darah cita-citanya dia tanam dalam hati. Batal menjadi perawat, Maria menjadi pelayan sebuah restoran Katolik. Akan tetapi, di restoran ini dia mengalami nasib sial, dia diperkosa oleh seseorang yang tak dikenal. Akhirnya, seminggu setelah kejadian itu, dia keluar dari restoran itu setelah menyaksikan seorang pastor bunuh diri.
Pada awalnya Maria tak bersedia menerima Fifi untuk tidur bersamannya, namun karena dia terus didesak oleh Tokoh Kita dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kalau Tokoh Kita yang berbicara, akhirnya ia mau menerima Fifi. Maria memiliki perasaan yang sangat khusus terhadap Tokoh Kita, namun ternyata Tokoh Kita tak memiliki perasaan yang sama terhadap Maria.
Kedekatan Tokoh Kita dan Fifi membuat hubungan Maria dengan Tokoh Kita menjadi sering tidak mesra padahal sebelumnya mereka sangat mesra. Maria mulai uring-uringan terhadap Tokoh Kita karena cemburu.
Suatu hari Fifi raib dari lingkungan mereka. Pada awalnya Maria mengira bahwa Fifi minggat bersama Tokoh Kita namun ternyata ia tak minggat bersama Tokoh kita. Upaya pencarian pun dilakukan, Para anggota gelandangan dikerahkan mencari Fifi ke seluruh kota, tapi mereka selalu pulang dengan keadaan nihil dan putus asa. Pak Centeng merupakan orang yang paling kecewa tiap kali pulang dari mencari Fifi, ia merasa malu karena dia jagoan yang terbilang paling disegani di seluruh kota dan sekitarnnya, untuk pertama kalinya dalam karir kejagoannya menemukan kegagalan.
Telah sebulan lebih lalu Fifi tak ketemu juga. Telah sebulan lebih pula Tokoh Kita tak datang-datang ke perkampungan gubug-gubug kecil itu. Tokoh Kita yang menghilang secara tiba-tiba membuat Pak Centang remuk batinnya, dia tak mengerti. Kedua kalinya dalam hidupnya dia mengalami kegagalan. Gagal mencari seseorang, hidup atau mati. Yang pertama Fifi. Yang kedua, Tokoh Kita.
Kabar mengejutkan adalah ketika Maria juga tiba-tiba menghilang. Sebulan berlalu. Maria tak tampak. Tak kembali ke perkampungan gubuk-gubuk kecil itu. Para penghuni kampung benar-benar geger. Apabila pada menghilangnya Fifi dan laki-laki tokoh kita mereka tak begitu terpengaruh, kali ini mereka benar-benar cemas. Maria, adalah sokoguru perkampungan mereka. Tanpa Maria, perkampungan itu kehilangan landasannya.
Akhirnya Pak Centeng pun menyerahkan pencarian Maria pada polisi. Seluruh armada telah dikerahkan dalam mencari ketika gelandangan yang raib, tapi nihil lagi. Lagi-lagi yang paling merasa terhina adalah Pak Centeng, sebab bagaimanapun dia merasa martabatnya sebagai Centeng yang jagoan telah rendah di mata para Centeng yang lain maupun diantara para temannya sesama gelandangan.
Perkampungan gubuk-gubuk kecil itu tiba-tiba dibuat geger dengan kembalinnya laki-laki tokoh kita. Namun ia kembali seorang diri, tanpa Fifi atau Maria. Seluruh penghunu kampung itu heran, sebearnya selama ini kemana tokoh kita menghilang. Pak centeng beserta warga nampak benci pada tokoh kita. Puluhan pertanyaan pun di lontarkan menyerbu di Tokoh Kita. Semua mempertanyakan dimana Fifi dan Maria. Tokoh Kita menceritakan apa sebenarnya telah terjadi. Tentang cinta Fifi padannya. Tentang cinta Maria padanya. Ternyata selama ini Fifi tidaklah menghilang, melainkan mati dibunuh Maria karena ia merasa cemburu pada Fifi. Maria sendiri sekarang telah masuk biara, mencoba mengakui dosa-dosanya pada Tuhan atas perbuatan ia membunuh Fifi.
Mendengar penjelasan Tokoh Kita membuat Pak Centeng marah. Kemudian Pak Centeng pun mencabut goloknya. Polisi di belakang Pak Centeng mengacungkan pistolnya lurus ke arah kepalannya. Melihat pistol diarahkan ke benaknya itu, darah Pak Centeng mendidih.
Pak Centeng mencabut goloknya. Sewaktu goloknya diayunkan tepat ke arah batang leher si Tokoh Kita itu, polisi pun datang sambil mengacungkan laras pistolnya pada si Pak Centeng. Dan memerintahkan agar Pak Centeng melepaskan goloknya dan menyerah pada polisi. Tapi Pak Centeng hanya menyengir tak mengiraukan perintah polisi. Dia melompat buas kemudian golok diayunkannya ke leher Tokoh Kita.
Polisi pun terpaksa mengambil tindakan dengan menembak kepala Pak Centeng, dia jatuh tersungkur. Lobang merah menganga dibelakang kepalannya. Sementara Tokoh Kita terhoyong-hoyong sebentar. Kemudian, tubuhnya yang tak berkepala lagi itu jatuh tersungkur. Tokoh Kita dan Pak Centeng dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara
