“Oeekk...oekk...”
Tepat pada pukul 9 malam, Kamal dan Bangkit keliling kampung untuk meronda.
“Mal, sebenernya malam Jum’at gini gak afdolya dirumah loh, tadi istriku ribut mulu dirumah ketika aku pamitan ronda. Enakan kamu masih jomblo dan gak ada yang bikin ribut” keluh Bangkit.
“Ngawur aja kamu, tadi di chat istrimu juga ngeluh ke aku tau. Harusnya kan ini jadwalku menyelinap,” keluh Kamal juga.
“Bentar-bentar.. apa maksudmu Mal ?” tanya Bangkit bingung.
“(aduh, gue keceplosan nih) Maksudku bukan apa-apa kok. Bercanda, haha,” Kamal mengelak.
“Haha, kamu bisa aja Mal,”.
“(untung gak ketahuan, huft)” ucap Kamal dalam batinnya.
Memperoleh sedikit uangdari ketua RT membuat mereka berdua mempunyai ide untuk mengiras kopi di warung Mbak Tika. Namun sebelum sampai, Kamal kebelet pipis, dan menuju sungai yang tidak jauh dari sampng kirinya.
“Bentar Kit, aku mau donor sungai dulu,” ijin Kamal.
“Halah, alasan mulu kamu. Sana-sana..”
Ketika Kamal membuka lesreting celananya, dia mendengar teriakan bayi di tengah sungai.
“Oeekkk... oeekkkkk..oeeekkk...”
“Alamakk.. Serem amat malam ini. Ada suara anak wewe nangis segala, Temenin aku Kit!!!” teriak Kamal ketakutan.
Gara-gara ketakutan, kamal pun salah konsentrasi. Sehingga bukan kencing yang keluar, melainkan berak yang berbau tajam.
“Ada apa Mal ? Mal ? Mmpff... Bau apa nih! Kamu tuh gak ada warasnya sama sekali! Pakai pempres dong ah!” teriak Bangkit.
“Udah Kit, bukan itu masalahnya. Kamu dengar suara anak nangis kan ?!”
“Mana ? Mana ?!! Bau berak malah yang terasa oon!” jengkel Bangkit.
“Ssstttt!!! Kamu itu diam dulu dong! Konsentrasi!” teriak Kamal.
“O ooek.. oo oooekk....”
Terlihat sebuah keranjang makanan yang mengapung ditengah sungai. Sumber suara bayi menangis itu berasal dari keranjang tersebut.
“Ayo Kit, kita ambil keranjang itu dari tengah sungai!”
“Ayo Mal! Cepat kamu kesana, aku bantu kamu dengan do’a dari sini!”
“(kalau gak karena istrimu cantik aku gak akan pernah mau ikuti saranmu Kit!) oke Kit, do’ain abang ya ?”
“Iya bang, sini kecup kening Angkit duyu,”
“Muuuaaccchhhuuuwwweeeeeeekkkkk juh,, huweehh.. huoweeekkk... juh.. Kenapa kita malah jadi homo gini ? Kamu gila! Udah lah, aku mau berenang dulu!”
“Abang jahat! (sambil menggeliat Bangkit mengucapkannya, sepertinya bangkit mengingat masalalunya sebelum taubat) Cemunguth Kamal!!” teriak bangkit.
Ketika Kamal mulai berenang, Bangkit pun mendoakannya biar Kamal segera dimakan buaya dan istrinya aman dari Kamal.
“Byurr... Hah.. byurr.. hah... hah.. Byurr...” suara kamal berenang. “Aaaaaa..........”
Tanpa di sadari, doa Bangkit terkabul. Kamal termakan oleh buaya. Darahnya memubal di tengah sungai.
“KAMAAAAAALLLLL!!!!!!!!!!”
Bangkit hanya bisa meratapi akan kesalahan doanya. Bangkit sangat menyesal dan tak bisa bangkit lagi dari keterpurukannya. Bangkit menangis dengan sendu dan pilu, terlihat jelas di raut wajahnya kala ia kehilangan sahabat terbaiknya itu.
Tak lama setelah itu, keranjang bayi itu pun menepi, tepat dibawah kaki Bangkit. Bangkitpun segera membuka keranjangnya dan mendekatkan kepalanya karena ingin melihat isinya.
“Argghhhummm!!!”
Ternyata di dalam keranjang itu terdapat bayi buaya. Tak di sangka-sangka, dua sahabat ini mati ditempat secara tragis.
TAMAT
