Template ini gratis jika anda ingin mendapatkannya unduh disini Download Now!

Sinopsis - Novel Kidung dari Negeri Apung



penulis sinopsis: Bagas Eka

Musawing, atau yang kerap dipanggil Awing. Dia seorang nelayan berumur 26 tahun. Dia memiliki tubuh yang tegap, dengan kulit coklat, mengkilap seperti tembaga yang baru digosok. Berambut hitam dengan ujung kekuningan akibat terbakar matahari. Matanya menyorot keberanian, kepastian, dan kepercaaan diri yang kuat. Awing tinggal di Kampung Mekar, atau Kampung Nelayan dengan ibunya yang usianya sekitar 50 tahun yang tetap sehat dan kuat meski sudah beruban. Dia tinggal di rumah panggung yang usia rumahnya melebihi usia Awing.

Ibu Awing selalu menjual hasil tangkapan Awing di pasar tradisional setemapat. Sesekali Awing terbayang-bayang ayahnya yang sering mengajaknya melaut. Awin sempat menempuh perguruan tinggi di Universitas Haluoleo. Namun ia terpaksa berhenti karena keluarganya tertimpa musibah. Ayahnya meninggal, sehingga ia menjadi tulang punggung keluarga.

Ada seorang gadis benama Liana yang menyukai Awing. Liana menyukai Awing sejak SMA. Liana berpostur tinggi, putih, berambut hitam panjang, dan bertubuh langsing. Ia berprofesi menjadi guru bantu di sekolah dasar yang terdapat di Desa Mekar. Liana sering berkeliling di rumah penduduk untuk mencari anak-anak yang telah mencapai usia sekolah untuk didaftarkan.

Liana terkejut melihat besarnya keinginan anak-anak untuk sekolah. Tetapi, dia mendapat perlawanan yang besar dari para orang tua. Mereka bersekutu melawan Liana yang akan membawa anak mereka ke sekolah. Penentang yang paling keras adalah Juragan Kantang, Tengkulak, dan orang paling kaya di kampung Itu. Warga menganggap, bahwa Liana yang menyebabkan anak-anak tidak lagi mematuhi perintah orangtua untuk membantunya melaut.

Suatu hari, Liana mendatangi ruang kelas satu. Dia hanya menjumpai enam anak yang hadir. Liana berpikir, bahwa anak-anak yang lain tidak berangkat karena dilarang orang tuanya. Liana menjadi teringat ketika bertugas pertama kali menjadi guru bant di SD tersebut yang bertepatan dengan  penerimaan murid baru. Pendaftawan penerimaan dibuka tiga hari. Namun, hingga hari terakhir tidak dijumpai warga kampung yang mendaftarkan anaknya. Kemudian Liana menemui kepala sekolah, Pak Nurdin untuk menyarankan bahwa penerimaan diperpanjang semiggu.

Kampung Mekar berawal dari Pulau Bokori. Pada awal 1980-an pemerintah setempat mengluarkan keputusan untuk menjadikan Pulau Bokori sebagai tempat wisata sehingga harus dikosongkan. Terjadilah eksodus penduduk secara bear-besaran. Mereka ditempatkan di kawasan cekungak teluk. Namun, seiring berjalannya waktu penduduk setempat semakin bertambah.

Pada daerah tersebut terdapat seseorang yang bernama Sandro Dama. Dia tidak memiliki anak walau sudah menikah sebanyak tiga kali. Istri pertamanya meninggal, sedangkan dua istri lainnya diceraikan secara baik-baik. Sandro Dama tidak kuat lagi mencari nafkah karena sudah terlalu tua. Untuk kehidupapn sehari-hari, Sandro Dama membantu orang-orang untuk memberikan minuman yang berisi jampi-jampi, sehingga orang lain biasanya meninggalkan sesuatu untuknya. Entah itu emas, makanan, maupun rokok. Sandro Dama konon dipercaya dapat menyembuhkan segala penyakit.

Selain itu dia selalu dimintai tolong saat ada ritual khusus orang Bajio di kampung itu. Seperti selamatan peluncuran perahu baru atau sampan dan perahu bermotor tempel, pemasangan karamba dan sero, serta acara perkawinan dan tolak bala. Sandro Dama sudah kenyang akan pengalaman hidup. Boleh dikata banyak komunitas Bajo maupun segala tempat sudah didatanginya. Macam-macam pengalaman hidup yang dialaminya selama hidup berpindah-pindah. Apalagi soal mencari hasil laut, boleh dikata segala jenis pekerjaan orang Bajo sudah pernah ia lakukan.

Saat tiba di pulau Bokori, Sandro Dama merasa bahwa itulah pelabuhan terakhirnya. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di pulau itu yang didapatinya sebuah gelar baru, “Sandro” atau orang tua kampung. Sandro Dama bisa membedakan perubahan yang terjadi di masyarakat Bajo. Dulu orang-orang Bajo msih memegang teguh falsafah mereka sebagai orang laut. Mereka hanya mengambil hasil laut sesuai kebutuhan hidupnya. Memang ada juga yang menjual hasil kepda pengumpul, tetapi tidak besar karena hanya sekadar untuk biaya hidup sekeluarga. Begitu juga sikap tolong menolong, pada saat itu mereka masih sangat menjunjug tinggi.

Namun sekarang, orang-orang mulai mengibarkan persaingan hidup. Mereka belomba-lomba membeli barang elektronik, atap rombia diganti seng, layar perahu diganti mesin, dan yang paling lebih keji saling fitnah berbiak.

Suatu saat Jayadi, kakak dari Liana berkunjung kerumah Sandro Dama untuk menanyakan kondisi Pulau Bokori. Setelah mendengarkan jawaban dari Sandro Dama, Jayadi merasakan dadanya sesak. Tak lama kemudian ia meminta pamit. Dalam perjalanan ia terus menunduk dan meresapi kata-kata Sandro Dama.

Dua tahun lalu tejadi pernikahan antara Sulaiman alias Leman dengan Nursenang alias Sennang. Sulaiman merupakan keturunan Bajo yang tinggal di Kampung Mekar, Sedangkan Sennang merupakan keturunan Bajo yang tinggal di Saponda. Pertemuan malam sebelum hasil pernikahan membahas soal pematapan pelaksanaan acara. Diputuskan bahwa Pak Mastahang bertugas mencari ikan.

Keesokan harinya, Pak Mastahang mencari ikan dilaut dengan cara pegeboman. Sebenarnya, Pak Mastahang tidak ingin menggunakan bom karena dapat merusak ekosistem laut dan membahayakan dirianya. Namun karena hasil perundingan menuntut untuk Pak Mastahanng mendapatkan ikan yang banyak dalam waktu semalam, maka Pak Mastahang melakukan pengeboman itu. Tak disangka, Pak Mastahang tewas ketika melakukan pengeboman.

Jasad Pak Mastahang ditemukan oleh petugas pos polisi Tapulaga yang bernama Briptu Ridwan dan Briptu Rajab. Sejak kejadian itu, Musawing berperan menjadi tulang punggung keluarga.

Suatu hari, Liana pergi ke kelurahan untuk menemui Pak Camat untuk meminta persetujuan atas program Tamasya Terumbu Karang yang digagasnya. Tak lama kemudian terlihat Awing sedang menuju ke kelurahan untuk menjemput Liana. Kemudian mereka menuju pemandian di tepi pantai berpasir putih. Mereka duduk dibawah pohon kelapa. Tidak lama kemudian Liana bercerita tentang kakaknya yang tidak menyukai hubungan mereka. Bahkan sebelum mereka berhubungan, Jayadi sudah membenci Awing.

Liana meminta kepada Awing untuk menjadi pemandu dalam program Tamasya Terumbu Karang yang akan diikuti murid dan guru sekolah pada tiap bulannya. Awing dipilih menjadi pemandu karena ia pernah belajar di Universitas Unhalu di Fakultas Perikanan dan pada semester empat harus berhenti karena kejadian yang menimpa ayahnya waktu itu.

Pagi harinya Awing mengantar murid-murid SMP Kendari menggunakan kapal kecil beratap terpal yang dipinjam dari Dinas Kelautan. Si Awing tidak lelah menjelaskan kepada siswa-siswa dengan pengetahuan yang pernah ia miliki ketika kuliah.

Jayadi merupakan guru SMP di Mata. Ia menguasai mengenai pendidikan agama dan politik. Ia memiliki istri bernama Hasnah Nursaleha. Hasnah selalau membela Liana saat dimarahi Jayadi apabila berhubungan dengan Awing. Jayadi membenci Awing karena antara keluarga  mereka pernah timbul masalah yang dikareakan ayah Jayadi pernah dipenjara arena dituduh menyelundupkan penyu ke Bali atas laporan Mastahang.

Liana mengajak Awing untuk menuju ke Sandro Dama. Liana ingin menanyakan bahwa tuduhan dari Jayadi tersebut benar atau tidak. Sandro Dama menjelaskan bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Waktu itu bapaknya Liana dan bapaknya Awing bekerja sama membangun keramba penyu. Mereka sempat cek-cok tentang pembagian hasil. Dua hari kemudian terjadilah penangkapan itu. Namun tiga hari sebelum polisi datang ke kampung ini, Pak tahang pergi ke Kantor poloso di Kendari. Saudaranya dari Togian ditangkap di Wawonii karena kedapatan membawa pupuk untuk bahan bom ikan.

Kemudian orang kampung menganggap kedatangan Pak Tahang ke kantor polisi untuk melaporkan Restambulu, ayah Liana. Padahal Pak Tahang hendak menjamin penahanan saudaranya dari Togian. Mendegar pernyataan dari Sandro Dama, hati Liana dan Awing menjadi lebih tenang.

Seminggu kemudian, Sandro Dama memanggil Jayadi ke rumahnya karena ingin meluruskan alasan tentang penangkapan ayahnya. Kemudian Jayadi percaya kepada Sandro Dama dan pulang ke rumahnya. Sampai dirumahnya, ia langsung berbicara kepada Liana untuk mengajak Awing ke rumah. Niatan Jayadi ingin meminta maaf kepada Awing. Setelah Jayadi meminta maaf kepada Awing, Jayadi menyetujui hubungan Liana dan Awing.

Pagi itu Liana melakukan aktivitas seperti biasanya, yaitu mengajar. Datang segerombolan warga untuk memnemui mereka. Para warga menginginkan Liana dikeluarkan karena telah menghasut anak-anaknya bersekolah. Namun, Pak Nurdin membela Liana dengan alasan-alasan yang logis. Warga pun menerima alasan tersebut dan kembali kerumah mereka masing-masing.

Kabar tersebut beredar di lingkungan kampung dan menjadi omongan warga. Awing mendegarnya dan berusaha menenagkannya. Setelah itu, Jayadi, Awing, dan Liana menuju rumah Pak Nurdin untuk membahas kejadian siang itu. Akhirnya mereka ingin menjadikan pondok kosong diujung kampung sebagai sekolah yang tidak ada ketentuan berpakaian dan waktu belajarnya.

Juragan Kantang adalah seorang rentenir yang menggeluti segala jenis usaha yang menampung segala rupa barang kebutuhan warga Kampung Nelayan. Juragan Kantang diajak berlibur ke Surabaya bersama Kong Candra, yaitu juragan penmpung hasil laut di Kota Lama.

Tiga bulan lagi akan diadakan pemilihan DPR dan salah satu kandidatnya adalah Pak Burhan. Kong Candra dan Juragan Kantang menjadi tim suksesnya. Mereka membahas rencana pelaksanaan pertemuan dengan warga. Kong Candra menyerahkan amplol coklat kepada Juragan Kantang sebagai awal kerjasama mereka.

Awing pergi ke rumah Jayadi untuk membicarakan soal undangan yang dibicarakan oleh Juragan Kantang. Awing, Jayadi dan Liana setuju untuk mendatangi acara tersebut dan mereka sepakat untuk menekan calon anggota dewan itu agar betul-betul mendengar aspirasi masyarakat.

Sore itu suasana di halaman rumah Juragan Kantang ramai. Awing, Jayadi dan Liana baru saja tiba. Pak Burhan mengenalkan dan menjelaskan niat beliau mendatangi kampung tersebut. Ketika memasuki sesi tanya jawab, Awing dan Jayadi mengeluarkan aspirasi yang menyudutkan Pak Burhan. Orang-orang meninggalkan tempat itu sambil mengucapka kata-kata tak jelas setelah Pak Burhan tidak bisa menjawab ulasan Awing dan Jayadi.

Sandro Dama menitipkan pesan kepada Leman agaar Awing, Jayadi dan Liana pergi kerumahnya. Sandro Dama hendak mengungkap misteri mengeai Liana. Waktu itu, Resta sedang berduka karena istrinya baru saja meninggal setelah melahirkan anak laki-laki yang bernama Jayadi. Jayadi kemudian diasuh oleh seorang janda yang masih satu keluarga dengan Resta. Resta pergi berlayar dengan Sandro Dama dan singgah di Kampung Kapoiala yang warganya sangat ramah dan berkulit putih. Salah satu langganan dari mereka mempunyai anak gadis yang bernama Lisna. Orangnya cantik, matanya sipit, kulitnya putih, dan setiap mereka makan di tempat itu Lisna yang mengurus makanannya. Lisna ingin dinikahi Resta namun tidak mendapat restu dari orang tuanya.

Resta dan Sandro Dama digiring keluar kampung oleh penduduk. Ketika sampai pantai, tiba-tiba Lisna menghampiri dan meminra Resta untuk membawanya. Kemudian mereka mendatangi rumah seorang imam kampung dan memaksanya untuk menikahkan mereka. Setelah mereka menikah, mereka singgah di Pantai Tapulaga dan membangun rumah. Mereka mempunyai anak perempuan bernama Liana. Lisna meninggal saat Liana masih kecl.

Walaupun Sandro Dama mengungkapkan misteri mengenai Liana yang sebagai orang Bagai, Namun Jayadi dan Awing tetap menyayanginya. Awing tidak mengurungkan niatnya untuk menikahi Liana.

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan. Centang Beri Tahu Saya untuk mendapatkan notifikasi dari komentarmu. :)
tesssssssss
tesssssssss
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.